Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat yakni +0,4033 poin ke level 236,8535

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat yakni +0,4033poin ke level 236,8535. Dua indeks return lainnya juga ditutup menguat yakni Indeks return obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) naik +0,4452poin ke level 232,9412, dan INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) menguat +0,1100poin ke level 254,4760. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi pola Rata-rata yield seluruh tenor 1-30tahun turun sebesar —0,76bps. Masing-masing kelompok tenor mencatatkan rata-rata yield sebesar: tenor pendek (<5tahun) +0,43bps, menengah (5-7tahun) —2,55bps, dan panjang (>7tahun) —0,73bps. Pada penutupan kemarin, INDOBeXG-Effective Yield berada di level 7,6667 (—0,0239poin). Harga seri-seri SUN benchmark kompak menguat dengan rata-rata harga pada seluruh serinya menguat +38,45bps. Seri FR0065 mencatatkan penguatan tertinggi yakni sebesar +69,82bps. Sementara seri FR0063 mengalami penguatan terendah yakni +15,64bps. Secara keseluruhan harga-harga SBN seri FR mencatatkan rata-rata penguatan sebesar +15,36bps. Namun rata-rata seri ORI melemah sebesar —0,82bps. Dengan kondisi ini INDOBeXG-Clean Price ditutup di level 111,2929 atau naik +0,1933poin dari penutupan sebelumnya. Volume transaksi di pasar sekunder mengalami peningkatan sebesar +38,70% dari Rp8,40tn menjadi Rp11,65tn. Sedangkan frekuensi transaksi mengalami penurunan tipis sebesar —2,20% dari 499 transaksi menjadi 488 transaksi. Peningkatan volume transaksi tersebut tampak lebih didorong oleh volume seri-seri on the run (SUN benchmark) yang meningkat hingga +123,46% dari Rp1,44tn menjadi Rp3,21tn. Seri FR0075 ditransaksikan dengan frekuensi tertinggi yakni 90 kali (volume Rp584miliar). Sedangkan obligasi korporasi teraktif dan sekaligus volume terbesar dicatatkan oleh seri PNMP02ACN2 yakni dengan dengan frekuensi 17 kali dan dengan volume sebesar Rp1,16tn. Meredanya tensi perang dagang antara US-Tiongkok menjadi katalis positifnya pasar obligasi domestik hingga penutupan Jumat. Kondisi pasar obligasi domestik juga diperkirakan terdorong oleh sentimen positif dari wall street paska laporan earnings dari beberapa bank investasi terbesar yang menunjukkan kinerja yang lebih baik dari konsensus. Faktor positifnya pasar obligasi juga sejalan dengan mulai kembalinya inflow asing ke pasar SBN dalam sepekan yang juga sejalan dengan menurunnya persepsi risiko di pasar yang tercermin dari penurunan Credit Default Swap (CDS) obligasi Indonesia tenor 5-tahun sebesar —4,41bps ke level 120,44bps. Senada dengan pasar obligasi, pasar saham secara keseluruhan juga menunjukkan kinerja positif yang ditunjukkan dari penguatan IHSG sebesar +36,20poin ke level 5.944,07. Pasar obligasi berpeluang untuk berlanjut positif pada awal pekan ditengah meredanya sentimen negatif global. Namun pasar diperkirakan bergerak terbatas karena wait and see pasar terhadap data PDB Tiongkok yang diproyeksi melambat ke level 6,7%yoy. Sementara dari dalam negeri, pasar akan menanti rilis data Neraca Perdagangan bulan Juni yang diperkirakan mencatatkan surplus setelah mengalami defisit pada bulan sebelumnya. Sebagai informasi berdasarkan kurs pasar spot Bloomberg, Rupiah terhadap USD pagi ini dibuka melemah ke level Rp14.393/US$ dari Rp14.378/US$.
  • Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan mendekati level Rp14.400-an per USD. Padahal, sebelumnya Bank Indonesia (BI) mengklaim kenaikan suku bunga acuan mampu membuat nilai tukar Rupiah stabil. Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin(16/7/2018) pukul 08.55 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 19 poin atau 0,13% ke level Rp14.397 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.392 per USD-Rp14.397 per USD. Sementara itu, Yahoofinance juga mencatat Rupiah melemah 19 poin atau 0,13% menjadi Rp14.392 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp14.373 per USD hingga Rp14.392 per USD. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan menaikkan suku bunga acuan telah berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui, BI telah menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis points (bps) dalam dua bulan terakhir ke level 5,25%. Hal ini sebagai respons dari kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate yang diprediksi sebanyak 4 kali pada tahun ini. “Jadi secara keseluruhan stabilitas nilai tukar itu terjaga dan cenderung membaik. Ini komitmen kami terus menjaga stabilitas ekonomi khususnya stabilitas nilai tukar,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Jakarta, Jumat 13 Juli 2018.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan pagi ini. Tercatat, IHSG dibuka turun 2,1 poin atau 0,03% ke 5.941,91 dan belum mencapai level 6.000. Membuka perdagangan, Senin (16/7/2018), ada 18 saham menguat, 7 saham melemah, dan 18 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp16 miliar dari 4,9 juta lembar saham diperdagangkan. Indeks LQ45 naik 0,67 poin atau 0,1% menjadi 938,39, indeks Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,81 poin atau 0,9% ke 669,31, indeks IDX30 naik 0,18 poin atau 0,0% ke 510,32 dan indeks MNC36 naik 0,29 poin atau 0,1% ke 333,22. Sektor penggerak IHSG bergerak dua arah, dengan sektor perkebunan memimpin penguatan hingga 0,5%. Sementara sektor infrastruktur turun 0,1%. Adapun saham-saham yang bergerak di jajaran top gainers, antara lain saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik Rp400 atau 0,9% ke Rp47.300, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik Rp120 atau 2,7% ke Rp4.620 dan PTMahkota Group Tbk (MGRO) naik Rp103 atau 24,4% ke Rp525. Sementara saham-saham yang ada di jajaran top losers, antara lain saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun Rp300 atau 2,2% ke Rp13.375, saham PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp125 atau 1,8% ke Rp6.675, dan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun Rp125 atau 1,4% ke Rp8.750.

EKONOMI GLOBAL

  • China melaporkan pertumbuhan ekonomi (GDP) kuartal II sebesar 6,7%, sesuai dengan ekspektasi meski melambat dari perumbuhan sebelumnya 6,8%. Rilis data ini belum memberikan dampak siginifikan pada pergerakan pasar, fokus saat ini tertuju pada ddata penjualan ritel AS.

Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas berpeluang menguat ke area 1253 jika data penjualan ritel AS pada pukul 19:30 WIB dirilis lebih rendah dari perkiraan. Support terdekat di kisaran 1236.

Minyak Mentah

Belum ada momentum penggerak baru bagi minyak mentah, sehingga selama tidak menembus ke bawah level 70.00, harga kemungkinan rebound dengan target ke area 71.80.

EURUSD

EURUSD memiliki peluang menguat jika rilis data penjualan ritel AS mengecewakan, atau jika mampu menembus konsisten ke atas level 1.1700, dengan target ke area 1.1750. Support terdekat di kisaran 1.1665.

GBPUSD

Sama dengan EURUSD, GBPUSD berpeluang menguat dengan target ke area 1.3310 jika mampu menembus ke area 1.3255, dan jika data ekonomi AS dirilis kurang bagus. Area 1.3200 menjadi support terdekat.

USDJPY

Pasangan mata uang ini dibuka gap down namun berbalik bergerak naik, menjadi indikasi sentimen bullish yang masih cukup kuat pasca mencapai level tertinggi tahun ini. Meski demikian, jika bursa saham hari ini melemah, dan data ekonomi AS mengecewakan, USDJPY berpeluang melanjutkan koreksi turun ke area 111.65. Kisaran area 112.80 (tertinggi Jumat) menjadi resisten terdekat.

AUDUSD

AUDUSD memangkas kenaikan pasca rilis data GDP China, selama tertahan di bawah resisten 0.7445, pasangan mata uang ini berpeluang turun ke area 0.7375.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 16/07/2018 pukul 10.08 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.