Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup melemah

  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup melemah –0,06% di level 232,2961. Pelemahan turut dicatatkan INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) sebesar –0,08% di level 227,8332; sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) naik +0,09% di level 253,7389. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak mixed. Penurunan yield terjadi pada kelompok tenor menengah (5-7tahun) sebesar –3,92bps. Sementara itu rata-rata yield pada tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +2,44bps dan +8,41bps. INDOBeXG-Effective Yield akhir perdagangan kemarin naik sebesar +0,0210poin ke level 8,3205. Pelemahan harga mendominasi seri SUN Rata-rata harga SUN bencmark turun sebesar –4,85bps. Hanya harga FR0065 yang naik sebesar +73,22bps sedangkan ketiga seri lainnya turun pada kisaran –25,86bps hingga –38,15bps. Mayoritas harga SBN baik tipe FR maupun ORI juga didominasi pelemahan. Rata-rata harga SBN tipe FR turun sebesar –22,88bps, dan tipe ORI turun –2,95bps. Sehingga INDOBeXG-Clean Price ditutup turun ke level 107,0438 (-0,15%). Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin tampak sepi. Total frekuensi turun –28,32% dari 685 kali menjadi 491 kali, dan total volume turun –54,60% dari Rp15,04tn menjadi Rp6,83tn. Seri-seri SUN tenor panjang menjadi pendorong utama turunya aktivitas perdagangan kemarin dimana total volumenya turun Rp6,69tn dan total frekuensi turun 162 transaksi dalam sehari. Total volume transaksi terbesar tercatat sebesar Rp1,22tn oleh FR0070 namun untuk frekuensi teraktif dicatatkan oleh FR0075 yakni sebanyak 77 kali. Untuk transaksi obligasi korporasi, total volume terbesar tercatat sebesar Rp100miliar oleh NISP03ACN1, dan frekuensi teraktif tercatat sebanyak 8 kali oleh ADHI02CN1. Menutup perdagangan awal pekan kemarin, pasar obligasi Indonesia cenderung bergerak tertekan. Harga-harga obligasi negara tipe fixed rate dan ORI didominasi penurunan sehingga mendorong kenaikan imbal hasil pada obligasi negara khususnya pada tenor-tenor panjang. Turunnya kinerja pasar kemarin diperkirakan lebih disebabkan oleh meningkatnya persepsi risiko pasar terhadap faktor global seperti kelanjutan perang tarif dagang AS-China yang sama-sama telah memberlakukan tarif bea impor terbaru dan menjelang pelaksanaan FOMC meetings. Kondisi tersebut diperkirakan memicu peningkatan indeks dollar global yang dianggap sebagai aset safe haven sehingga turut berdampak pada pelemahan Rupiah. Pada perdagangan kemarin, Rupiah terdepresiasi sebesar 49poin ke level Rp14.866/US$. Sejalan dengan pasar surat utang, kinerja pasar saham (IHSG) turun –1,27% ke level 5.882,22. Pada perdagangan hari ini performa pasar obligasi dalam negeri berpotensi masih tertahan negatif. Menjelang pelaksanaan rapat FOMC, pelaku pasar diperkirakan akan wait & see guna mengantisipasi risiko dampak yang timbul paska pertemuan tersebut. Sebagaimana diketahui, banyak kalangan ekonom sudah memprediksikan kenaikan FFR ke level 2,00%-2,25%. Pada pagi ini, Rupiah dibuka melemah ke level Rp14.875/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

  • Dolar AS tergelincir menghapus kenaikan sebelumnya, karena investor mencari petunjuk baru untuk memperpanjang reli greenback sebelum kenaikan suku bunga yang sangat diharapkan oleh bank sentral AS minggu ini. Sementara itu komentar ECB Mario Draghi bahwa “Inflasi yang mendasari diperkirakan akan meningkat lebih lanjut selama beberapa bulan mendatang karena pasar tenaga kerja yang mengetat mendorong pertumbuhan upah.” berpotensi mendongkrak EURUSD. Data Consumer Confidence AS yang akan dirilis pada pukul 21.00 WIB akan menjadi katalis bagi dolar AS dan komoditi emas jika data dirilis lebih rendah dari ekspektasi hal ini berpotensi menekan dolar dan mendorong emas.

Potensi pergerakan

EMAS

Harga emas berpeluang naik pada jangka pendek untuk menguji level resisten di $1205 – $1208 seiring dolar yang tergelincir di tengah investor yang berusaha mencari petunjuk baru untuk reli penguatan dolar sebelum pengumuman kenaikan suku bunga yang sangat diharapkan oleh bank sentral AS.

MINYAK

Harga minyak berpotensi bergerak naik menguji level resisten di $72.70 – $73.00 di tengah pasar minyak yang sangat ketat dan pemimpin OPEC menandakan bahwa mereka tidak akan segera meningkatkan output.
EURUSD

EURUSD berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek menguji level resisten di 1.1750 – 1.1800 karena Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mengatakan Senin bahwa inflasi yang mendasari di Eropa tampaknya akan meningkat.

GBPUSD

Sekretaris Brexit Inggris Dominic Raab mengatakan pada hari Senin ia yakin London pada akhirnya akan mendapatkan kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa, hal ini berpeluang menopang GBPUSD menguji level resisten di 1.3140 – 1.3170.

USDJPY

Pasar saham Asia yang terimbas pelemahanan dari Wall Street menyusul laporan bahwa Wakil Jaksa Agung AS Rod Rosenstein berada di ambang pengunduran diri atau dipecat berpotensi mendorong USDJPY bergerak naik menguji level resisten 112.80 – 113.15.

AUDUSD

Kisruh perang dagang AS dengan China yang terus berlangsung yang ditandai dengan China menarik keluar dari pembicaraan terjadwal dengan AS berpeluang menekan AUDUSD untuk menguji level support di 0.7240 – 0.7220.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 25/09/2018 pukul 09.51WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.