Selasa, 04 Agustus 2020

  • Perdagangan Awal Bulan, Pasar Obligasi Sideways. Indeks return obligasi Indonesia baik konvensional maupun sukuk menguat terbatas pada perdagangan Senin. Harga seri-seri SBN fixed rate bergerak mixed dengan rata-rata perubahan turun sebesar –2,67bps. Yield SBN juga berpola mixed dengan rata-rata pada seluruh tenor 1-30tahun turun tipis sebesar –0,30bps. Penurunan yield terjadi pada tenor pendek dan menengah. Total volume perdagangan di pasar sekunder turun menjadi Rp16,83tn (-25,60%). Sementara total frekuensi turun menjadi 1.117 transaksi (-10,93%). Penguatan terbatas pada pasar obligasi Indonesia diperkirakan lebih digerakkan oleh faktor trading. Pasar masih dibayangi oleh beragam tekanan seperti resesi ekonomi beberapa negara maju dan serta ekspektasi resesi ekonomi Indonesia. Pada perdagangan Senin, kurs spot Rupiah berlanjut melemah ke level Rp14.630/US$ dan kinerja IHSG turun hingga –2,79% ke level 5.006,22. Pada perdagangan Selasa, pasar obligasi berpotensi masih bergerak dalam rentang terbatas. Gerak pasar diperkirakan masih digerakkan oleh aksi trading dan pelaku pasar akan cenderung wait & see hingga rilis GDP Q2 Indonesia hari Rabu mendatang yang diproyeksi terkontraksi –4,2%yoy. Sebagai informasi, Selasa ini pemerintah kembali melelang 5 seri sukuk negara (1 seri new issuance dan 4 seri reopening dengan target indikatif Rp8,00tn.
  • Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2020 mengalami deflasi 0,10% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi 0,18% (mtm). Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi kelompok inti yang tetap rendah serta deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices. Secara tahunan, inflasi IHK Juli 2020 tercatat sebesar 1,54% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,96% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasarannya sebesar 3,0%±1% pada 2020. Inflasi inti pada Juli 2020 tercatat tetap rendah yakni 0,16% (mtm), meskipun meningkat dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya sebesar 0,02% (mtm) akibat kenaikan harga emas. Inflasi inti yang rendah tergambar pada beberapa komoditas seperti gula pasir, kopi bubuk, dan bawang bombay yang masing-masing tercatat deflasi 4,23%, 0,36%, dan 5,05% (mtm). Sementara itu, inflasi emas tercatat naik dari deflasi 1,18% (mtm) menjadi 5,02% (mtm) sejalan dengan kenaikan harga emas dunia. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,07% (yoy), melambat dibandingkan dengan inflasi Juni 2020 sebesar 2,26% (yoy). Inflasi inti yang terjaga rendah tidak terlepas dari pengaruh perlambatan permintaan domestik akibat pandemi COVID-19, konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, harga komoditas global di luar emas yang tetap rendah, dan stabilitas nilai tukar yang terjaga. Kelompok volatile food mencatat deflasi 1,19% (mtm) pada Juli 2020, menurun dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,77% (mtm). Deflasi kelompok volatile food terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas pangan seperti aneka bawang, daging ayam ras, dan beras. Perkembangan ini juga sejalan permintaan domestik yang melambat serta pasokan yang memadai didukung dampak panen, distribusi di berbagai daerah yang terjaga, dan harga komoditas pangan global yang rendah. Dengan perkembangan ini, inflasi kelompok volatile food secara tahunan tercatat 0,35% (yoy), lebih rendah dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,32% (yoy). Kelompok administered prices mengalami deflasi 0,07% (mtm) pada Juli 2020, setelah pada bulan sebelumnya mencatat inflasi sebesar 0,22% (mtm). Deflasi tersebut terutama akibat menurunnya tarif angkutan udara sejalan penerapan strategi penurunan harga tiket oleh maskapai. Sementara itu, tarif angkutan antarkota dan kendaraan roda empat daring, serta harga jual aneka rokok mengalami peningkatan. Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 0,70% (yoy) pada Juli 2020, lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,52% (yoy). 

EKONOMI GLOBAL

  • Keputusan moneter terbaru dari Reserve Bank Australia yang dirilis pukul 11:30 WIB akan menjadi perhatian utama pasar di hari Selasa (4/8), khususnya untuk trader dolar Australia. Jika mereka memberikan keputusan yang cenderung hawkish seperti mempertahankan suku bunga atau berikan pernyataan yang optimis berpeluang memicu penguatan dolar Australia. Namun, jika mereka berikan pandangan yang pesimis, terutama di tengah melonjaknya kasus penyebaran virus korona di wilayah Victoria berpotensi menjadi beban untuk kinerja dolar Australia.  Sementara itu untuk sektor komoditas. Harga emas berpeluang bergerak naik kembali setelah sempat terkoreksi dari level tertinggi sepanjang masa karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus korona dan ketegangan antara AS dengan Tiongkok. Sementara itu harga minyak berpeluang bergerak turun di tengah outlook melambatnya permintaan dan OPEC+ yang mengurangi level pemangkasan produksi mereka mulai Agustus. 

Potensi Pergerakan 

EMAS 

Setelah berakhir hanya menguat $1.13 di level $1977.02 di hari Senin. Pada hari ini emas berpeluang untuk bergerak naik kembali untuk menguji level resisten di $1980-$1988 di tengah masih adanya kekhawatiran akan peyebaran virus korona dan ketegangan antara AS-Tiongkok. Namun, jika dolar AS kembali menguat, khususnya pada perilisan data factory order AS yang optimis pukul 21:00 WIB, harga emas berpeluang bergerak turun untuk menguji level support di $1964 – $1956.

MINYAK 

Harga minyak berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek untuk menguji level support di $40.20 – $39.50 karena outlook melambatnya permintaan dan berkurangnya level pemangkasan produksi oleh OPEC+ setelah kemarin ditutup menguat $0.34 di level $40.77 seiring optimisnya data indeks manufaktur di berbagai negara maju. Namun, harga minyak berpeluang untuk bergerak naik, menguji resisten di $41.20 – $41.70 jika dominannya sentimen pelemahan dolar AS. 

EURUSD

Pasca ditutup turun 15 pips di lvel 1.1763 di hari Senin, EURUSD berpeluang untuk berbalik naik dalam jangka pendek untuk hari ini menguji level resisten di 1.1800 – 1.1870 di tengah sedang tertekannya dolar AS. EURUSD berpotensi bergerak turun untuk menguji support di 1.1720 – 1.650 jika data PPI zona euro yang dirilis pukul 16:00 WIB hasilnya pesimis. 

GBPUSD 

GBPUSD berpeluang untuk kembali bergerak naik setelah kemarin berakhir melemah 10 pips di level 1.3075 karena outlook pelemahan dolar AS untuk menguji level resisten di 1.3110 – 1.3180. Jika bergerak turun, level support terlihat di  1.3030 – 1.2960.

USDJPY 

Sentimen optimisnya data CPI Tokyo dan basis moneter Jepang yang dirilis pagi ini berpeluang memicu penurunan lebih lanjut untuk USDJPY setelah kemarin berakhir melemah 32 pips di level 106.04 untuk menguji level support di 105.80 – 105.40. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 106.30 – 106.70. 

AUDUSD

Setelah berakhir turun 20 pips di level 0.7124 di hari Senin. AUDUSD berpeluang naik dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 0.7150 – 0.7200 jika bank sentral Australia dalam keputusan moneternya pukul 11:30 WIB berikan keputusan dan pernyataan yang hawkish/optimis. Namun, jika mereka berikan pandangan yang dovish, khususnya karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus korona di Australia berpotensi menjadi beban untuk kinerja AUDUSD untuk menguji level support di 0.7070 – 0.7020.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.