Bank Jateng Tanggung Iuran BPJS Ketenagakerjaan 120.000 Pekerja Rentan

Banjarnegara – Bank Jateng memberi bantuan iuran program BPJS Ketenagakerjaan bagi 120.000 pekerja rentan di Jateng. Penyerahan bantuan diberikan secara simbolis oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Pendapa Dipayudha, Banjarnegara, Rabu (10/4).

Penerima bantuan merupakan pekerja di sektor informal yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jateng. Rinciannya, buruh 8.000 orang, buruh harian lepas 24.729 orang, nelayan 15.489 orang, pedagang 10.001 orang, petani 9.000 orang dan wiraswasta 52.781 orang.

Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno mengatakan, pemberian bantuan iuran BPJS Ketenagakerjaan ini merupakan bentuk kepedulian Bank Jateng kepada pekerja rentan. Selama ini, mereka tidak mendapatkan perlindungan karena tidak menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Dengan bantuan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan melalui Gerakan Nasional Lingkaran ini harapan kami 120.000 pekerja rentan ini akan terlindungi,” katanya.

Dikatakan, bantuan tersebut berasal dari dana Corporate Social Responsibility Bank Jateng. Total bantuan yang dikucurkan sebanyak Rp 2,01 miliar, atau sebesar Rp 16.800 per orang. Sedangkan penerima untuk Kabupaten Banjarnegara berjumlah 1.215 pekerja rentan.

Menurutnya, bantuan ini bersifat stimulan. Diharapkan, selanjutnya para penerima bantuan bisa membayar iuran sendiri dengan kesadaran pribadi karena telah terlindungi oleh program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan. “Program ini juga untuk mendukung program jaminan sosial ketenagakerjaan khususnya bagi pekerja sektor informal,” terangnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam lawatannya ke Banjarnegara yang didampingi Wagub Taj Yasin Maemoen. Pada kesempatan itu, Gubernur mengapresiasi ibu-ibu pelaku industri rumah tangga yang membawa berbagai produk hasil UMKM. Menurutnya, ibu-ibu kreatif tersebut, merupakan temuan dari metode pemberian bantuan yang dilakukan secara langsung kepada masyarakat. “Sekarang ini UKM kita buru agar mendapatkan akses permodalan dan pendampingan. Jadi persoalan marketing, permodalan bisa teratasi,” kata Ganjar.