Bank Jateng Maksimalkan Layanan Non Tunai di Pasar Tradisional

Bank Jateng terus berupaya memaksimalkan layanan transaksi non-tunai di pasar-pasar tradisional yang ada di Jawa Tengah. Program yang ditargetkan menjangkau seluruh pasar tradisional di Jateng tersebut diharapkan bisa mendukung program pembayaran non tunai dan untuk mendukung adaptasi kebiasaan baru guna mengurangi risiko penyebaran Covid-19 yang dicanangkan pemerintah.

Adapun layanan non tunai yang disediakan meliputi layanan pembayaran restribusi pasar yang dipungut pemerintah daerah dari para pedagang dalam bentuk penggunaan Kartu e-Retribusi, serta layanan transaksi pedagang dan pembeli menggunakan aplikasi pembayaran non tunai berbasis QR Code Indonesia Standard (QRIS). Dengan layanan tersebut, persinggungan antara pembayar dan penerima pembayaran  bisa diminimalisasikan.

Kartu E-Retribusi yang diterbitkan Bank Jateng menjadi sistem pembayaran resmi di beberapa pasar tradisional, dan penerapannya cukup ditempel pada MPos (alat payment) yang dibawa petugas penagihan restribusi pasar. Dengan pola itu, proses pembayaran dan pencatatannya dapat berlangsung secara real time. Untuk menambah isi saldo kartu atau top up bisa dilakukan di kantor layanan Bank Jateng dan kartu EDC (Electronic Data Capture).

Program pembayaran non tunai retribusi pasar bisa dikatakan merupakan program kepeloporan, karena membutuhkan edukasi yang masif, sehingga pemerintah daerah dan perbankan harus melakukan beberapa penyesuaian. Seperti yang dilakukan Bank Jateng dan Pemkab Sragen dengan membuat E-Tiketing yang merupakan perpaduan non tunai dengan pembayaran tunai. Pedagang yang saldo E-Retribusi-nya tidak mencukupi bisa membayar tunai ke petugas, dan petugas langsung membayarkan kartu E-Tiketing yang ada, sehingga proses dan pencatatannya tetap real time.

Penerapan E-Retribusi di pasar tradisional diyakini bisa mengefektifkan metode pencatatan pendapatan daerah, meningkatkan transaksi non tunai, meningkatkan pengendapan dana murah, meningkatkan layanan kualitas dan kuantitas Bank Jateng, serta mengurangi beban kerja dari teller dan ATM.

Bupati Tegal, Umi Azizah, saat meluncurkan e-retribusi di Pasar Pepedan Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal berharap penerapan metode pembayaran ini memudahkan pedagang dan mengurangi kebocoran yang mungkin dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Umi Azizah berharap 26 pasar tradisional yang ada di wilayahnya bisa menerapkan system pembayaran non tunai yang dikelola Bank Jateng.

Sedangkan penerapan aplikasi non tunai antara pedagang dan pembeli yang diinisiasi Bank Jateng, dimulai dengan proyek percontohan di Pasar Gawok, kecamatan Gatak kabupaten Sukoharjo sejak pertengahan tahun 2019. Penerapan aplikasi pembayaran non tunai QRIS ini terkoneksi dengan aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik dan mobile banking yang didukung Bank Indonesia.

Untuk tahap awal, QRIS fokus pada penerapan QR Code Payment model Merchant Presented Mode (MPM), di mana penjual (merchant) yang akan menampilkan QR Code pembayaran untuk dipindai oleh pembeli (customer) ketika melakukan transaksi pembayaran. Program transaksi ini diyakini memberikan manfaat positif kepada semua pihak, sehingga Bank Jateng terus menjajaki penerapannya di pasar tradisional yang lain. **