Defisit Neraca Transaksi Berjalan Pada Triwulan II 2018 Mengalami Kenaikan

EKONOMI DOMESTIK

  • Sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II 2018 mengalami kenaikan. Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 tercatat USD8,0 miliar (3,0% PDB), lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD5,7 miliar (2,2% PDB). Sampai dengan semester I 2018, defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman, yaitu 2,6% PDB. Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas. Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor nonmigas yang turun. Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat lebaran dan libur sekolah. Pada triwulan II 2018, sesuai dengan pola musimannya, terjadi peningkatan pembayaran dividen sehingga turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer. Surplus transaksi modal dan finansial meningkat sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik. Transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2018 mencatat surplus USD4,0 miliar, lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus sebesar USD2,4 miliar. Surplus transaksi modal dan finansial terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus.Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri. Surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan, sehingga pada triwulan II 2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD 4,3 miliar. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Ke depan, kinerja NPI diprakirakan masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprakirakan masih dalam batas aman yaitu tidak melebihi 3,0% dari PDB. Dalam hal ini, sejumlah langkah telah ditempuh Pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution. Pemerintah juga terus memperkuat sektor pariwisata, terutama di 4 (empat) daerah wisata prioritas, untuk mendukung neraca transaksi berjalan. Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, antara lain ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, dan kenaikan harga minyak dunia. Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.

EKONOMI GLOBAL

  • Menutup akhir pekan kembali naik ke kisaran $67 per barrel dengan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran yang tampaknya akan memperketat pasokan. Pada hari ini akan dirilis laporan bulanan oleh OPEC yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dengan potensi pelemahan jika pada rilis terdapat peningkatan produksi. Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas masih berfluktuasi pasca rilis data CPI Amerika Serikat akhir pekan lalu yang dirilis sesuai ekspektasi. Potensi pelemahan di kisaran rendah $1203 per troy ons dan terdapat resisten di $1217 per troy ons.

Minyak Mentah

Menutup akhir pekan kembali ke kisaran diatas $67 per barrel dengan sanksi AS terhadap Iran tampaknya akan memperketat pasokan. Pada hari ini akan dirilis laporan bulanan OPEC yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dengan potensi pelemahan jika pada rilis terdapat peningkatan produksi. Support terdekat di $66.70-an, sementara resisten di $68.50-an.

EURUSD

Berada pada kisaran rendahnya saat ini dengan dipengaruhi situasi ekonomi di Turki yang mengalami guncangan. Euro membuka sesi perdagangan pada awal pekan lebih rendah terhadap Greenback terkait penurunan tajam Lira Turki sepanjang pekan. Potensi pelemahan lanjutan dengan support di kisaran 1.3200-an.

GBPUSD

Masih dalam tekanan jual dengan imbas dari “drama” Brexit yang kurang dari delapan bulan. Potensi pelemahan dengan support terdekatnya di kisaran 1.2720-an.

USDJPY

USDJPY memulai minggu ini bergerak turun imbas dari kekhawatiran penularan atas kurangnya likuiditas di pasar utang luar negeri dalam dolar Amerika Serikat terhadap guncangan ekonomi yang dialami oleh Lira Turki. Potensi pergerakan penurunan lanjutan ke kisaran 109.95.

AUDUSD

Pasca rilis suku bunga acuan pada pertengahan pekan lalu yang tetap pada 1.50% dengan kini pergerakan berada pada harga rendah tahunannya. Potensi membuat harga rendah baru dengan support terdekat di 0.7200-an.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 13/08/2018 pukul 11.28 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.