Rabu, 15 Januari 2020

  • Yield Curve PHEI Bearish, ICBI Turun –0,06%. Indeks return obligasi Indonesia baik konvensional maupun sukuk dominan melemah. Hanya indeks return obligasi korporasi yang mencatatkan kenaikan tipis. Penurunan harga pada mayoritas seri obligasi turut mendorong penurunan yield obligasi Negara dan korporasi terutama pada tenor menengah-panjang. Frekuensi perdagangan obligasi di pasar sekunder turun menjadi 1.093 kali (-14,14%) namun total volume meningkat menjadi Rp26,08tn (+5,91%). Ditengah positifnya sentimen dari global dan domestik, melemahnya kinerja pasar obligasi diperkirakan lebih dipicu oleh aksi trading investor dalam memanfaatkan momentum kenaikan harga sejak awal pekan lalu. Pada perdagangan Selasa kemarin, pemerintah kembali mengadakan lelang sukuk perdana tahun 2020 dengan mencatatkan penawaran masuk sebesar Rp59,14tn dan dana yang diserap pemerintah sebesar Rp7,00tn. Pasar obligasi Indonesia diproyeksi mencatatkan penguatan secara terbatas. Katalis pasar hari ini berasal dari optimisme investor jelang penandatanganan kesepakatan damai dagang US-China yang akan dilakukan malam nanti. Namun pergerakan pasar juga tampak dibayangi oleh neraca perdagangan Indonesia Desember 2019n yang diprediksi kembali mencatatkan defisit.
  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2019 tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada akhir November 2019 tercatat sebesar 401,4 miliar dolar AS, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar 201,4 miliar dolar AS dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 200,1 miliar dolar AS. ULN Indonesia tersebut tumbuh 8,3% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 12,0% (yoy). Perkembangan ULN tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN Pemerintah maupun ULN swasta. ULN Pemerintah tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Posisi ULN Pemerintah pada akhir November 2019 tercatat sebesar 198,6 miliar dolar AS atau tumbuh 10,1% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,6% (yoy). Posisi ULN Pemerintah tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya terutama karena pelunasan pinjaman bilateral dan multilateral yang jatuh tempo pada periode laporan. Pengelolaan ULN Pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,0% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,5%), sektor jasa pendidikan (16,1%), sektor administrasi Pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,4%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,4%). ULN swasta tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya. ULN swasta tumbuh 6,9% (yoy) pada akhir November 2019, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,7% (yoy). Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh cukup tingginya pelunasan surat berharga domestik yang jatuh tempo, meskipun pada periode yang sama terdapat penerbitan surat utang perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) dan penarikan pinjaman oleh perbankan. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan & asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan & penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9%. Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada November 2019 sebesar 35,9%, relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,5% dari total ULN. Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

EKONOMI GLOBAL

  • Sekertaris keuangan AS, Steven Mnuchin, melalui pernyataan pers Kamis,menyatakan AS belum akan mencabut semua tarif produk Impor Tiongkok yang sudah berlaku hingga pembahasan kesepakatan dagang tahap ke-2, memicu kekhawatiran para pelaku pasar terhadap kelangsungan penandatanganan kesepakatan dagang kedua negara yang akan berlangsung hari ini (15/1) di AS. Kabar terkini jadwal penandatanganan pada jam 11:30 siang AS, atau sekitar 23:30WIB, masih dapat berubah. Kabar negatif lainnya adalah upaya tim administrasi Trump untuk kembali membatasi penjualan teknologi-teknologi AS kepada perusahaan telekomunikasi Tiongkok, Huawei. Sikap AS ini terus menambah kekhawatiran pelaku pasar kemungkinan berlanjutnya perang dagang kedua negara. Di tengah pandangan pasar, terjalinnya kerja sama dagang kedua negara berpeluang membantu pemulihan ekonomi global yang berimbas negatif atas perang dagang dua negara ekonomi terbesar tersebut.  Kepala BoJ, Haruhiko Kuroda, pada pidatonya pagi ini menyatakan masih akan menjalankan program pelonggaran moneter seperlunya, hingga target inflasi konsumen mencapi level stabil pada 2.0%, dan menjaga tingkat suku bunga tetap di bawah nol selama diperlukan.  Faktor-faktor penggerak lainnya hari ini diantaranya pidato anggota MPC Michael Saunders dan data CPI Inggris berpeluang menggerakkan GBPUSD. Peluang penggerak EURUSD dari data Trade Balance Zona Euro. AS akan merilis data PPI dan PPI Inti di malam hari yang berpeluang menggerakkan nilai tukar dolar AS. Dan lapiran cadangan persediaan minyak mentah AS versi EIA berpeluang menggerakkan harga minyak.

Potensi Pergerakan

EMAS
Terpicunya kekhawatiran kelangsungan penandatanganan kesepakatan dagang AS – Tiongkok setelah pernyataan sekertaris keuangan AS berpotensi angkat harga emas menguji resisten $1556 – $1560.Level support pada kisaran $1535 – $1540.

MINYAK
Meredanya ketegangan di Timur Tengah dan Libia berpeluang menekan harga minyak turun menguji support $57.50 – $57.70. Level Resisten pada kisaran $58.70 – $59.20.

EURUSD
EURUSD berpeluang bergerak naik menguji level resisten di 1.1150 – 1.1170 bila dolar AS tertekan oleh kekhawatiran terganggunya kesepakatan dagang tahap pertama AS – Tiongkok. Support EURUSD berada pada kisaran 1.1080 – 1.1100.

GBPUSD
Optimisme Brexit berpotensi membantu GBPUSD naik menguji resisten 1.3045 – 1.3080. Level support pada kisaran 1.2950 – 1.3000.

USDJPY
Kekhawatiran kelangsungan kesepakatan dagang AS – Tiongkok setelah pernyataan dari pemerintah AS berpeluang menekan USDJPY turun menguji support 109.50. Namun bila pernyataan Ketua BoJ Haruhiko Kuroda mendapatkan respon lebih besar dari pasar, berpotensi mendukung kenaikan menguji resisten 110.20 – 110.50.

AUDUSD
AUDUSD berpotensi bergerak turun menguji level support di 0.6840 – 0.6870 bila kekhawatiran kelangsungan kesepakatan dagang AS – Tiongkok terganggu oleh pernyataan pemerintah AS. Level resisten pada kisaran 0.6920 – 0.6950.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

 

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.