Ekonomi Update 12 September 2017

    • Mulai 31 Oktober 2017, pembayaran di jalan tol Indonesia akan dilakukan sepenuhnya secara nontunai menggunakan uang elektronik.
    • Penjualan eceran pada Juli 2017 menurun sejalan dengan kembali normalnya pola konsumsi masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri.
    • Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2018 mendatang akan mencapai 5,26 persen, lebih rendah dibandingkan target pemerintah dalam RAPBN 2018 5,4 persen.
    • Bank Indonesia (BI) mengatakan terdapat tiga ketentuan krusial dalam peraturan baru penerbitan dan transaksi Surat Berharga Komersial (Commercial Paper/CP) yang dibuat untuk mencegah kembali terjadinya krisis di pasar keuangan seperti pada 1998.
    • Penerbitan peraturan untuk pengeluaran dan transaksi Surat Berharga Komersial (Commercial Paper/CP) sebagai instrumen utang jangka pendek bagi korporasi, diperkirakan mampu mendorong perbankan untuk menurunkan bunga kreditnya, khususnya kredit modal kerja.
    • Pasar saham Australia dibuka menguat pada Selasa, dengan saham-saham material mengembalikan beberapa dari kerugian mereka yang terjadi sehari sebelumnya.
    • China akan melarang penjualan kendaraan bertenaga minyak fosil sekaligus membuka ruang bagi penjualan mobil bertenaga listrik.
    • Dolar AS mendapat momentum penguatan pada awal pekan kemarin pasca meredanya ketegangan geopolitik baik dengan Korea Utara maupun dari potensi shut down pemerintahan AS.
    • Pemerintah China berencana melarang perdagangan criptocurrency (mata uang digital), termasuk bitcoin, di bursa China.
    • Bursa Asia melanjutkan reli, Selasa (12/9).

    EKONOMI DOMESTIK

     

    • Mulai 31 Oktober 2017, pembayaran di jalan tol Indonesia akan dilakukan sepenuhnya secara nontunai menggunakan uang elektronik. Pemberlakuan transaksi tersebut diharapkan akan mempercepat proses pembayaran di jalan tol, sehingga masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan lebih nyaman. Untuk mempersiapkan hal tersebut, BI sebagai otoritas sistem pembayaran terus berkoordinasi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) sebagai otoritas jalan tol serta Kementerian Perhubungan sebagai otoritas transportasi, untuk mempersiapkan implementasi elektronifikasi pembayaran jalan tol. Sebagai bagian penerapan elektronifikasi tol 100% pada bulan Oktober 2017, akan diterbitkan regulasi yang mewajibkan transaksi non tunai di jalan tol. Regulasi akan diterbitkan dalam bentuk Peraturan Menteri PUPR. Sistem pembayaran elektronik di jalan tol juga akan menerapkan interkoneksi dan interoperabilitas melalui Secure Access Module (SAM) Multi Applet yaitu penerapan infrastruktur yang mendukung penerapan multi bank penerbit untuk menyediakan layanan uang elektronik secara interkoneksi. Selain itu, BI terus bekerja erat bersama perbankan dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dalam melakukan kampanye dan edukasi bagi masyarakat, untuk membangun pemahaman mengenai perubahan cara pembayaran di jalan tol. Sejalan dengan itu, guna memudahkan masyarakat memperoleh uang elektronik, akan dilakukan penjualan kartu uang elektronik di gardu tol, serta penambahan lokasi pengisian ulang (top up) uang elektronik. Untuk mengantisipasi timbulnya kemacetan di gerbang tol, masyarakat diimbau untuk mempersiapkan uang elektronik dan mengecek saldo sebelum melakukan perjalanan di jalan tol. Penyediaan fasilitas top-up tunai di gardu tol diutamakan untuk keadaan darurat, sehingga tidak terjadi antrian di gardu tol. Selain itu, saat ini telah dijalankan program diskon bertransaksi nontunai di jalan tol untuk semakin menarik minat masyarakat bertransaksi secara nontunai. Program diskon tersebut meliputi diskon biaya pembelian kartu uang elektronik dan diskon tarif tol (untuk ruas dan jangka waktu tertentu) sejak tanggal 17 Agustus 2017 hingga 30 September 2017. BI dan Kementerian PUPR terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan sistem pembayaran elektronik jalan tol di seluruh Indonesia. Selain target implementasi 100% Non Tunai di 31 Oktober 2017, target berikutnya adalah mewujudkan transaksi non tunai di jalan tol tanpa perlu menghentikan kendaraan (multi lane free flow), yang rencananya akan terwujud di akhir 2018. Dengan menggunakan uang elektonik, pembayaran tol menjadi lebih cepat, praktis dan nyaman, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan kelancaran di jalan tol.
    • Penjualan eceran pada Juli 2017 menurun sejalan dengan kembali normalnya pola konsumsi masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran Juli 2017 sebesar 209,9 atau turun sebesar 3,3% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 6,3% (yoy). Penurunan penjualan ritel terjadi baik pada kelompok makanan maupun kelompok non makanan. Secara regional, penurunan pertumbuhan tahunan IPR terjadi di beberapa kota seperti Semarang, Denpasar, dan Manado. Penjualan ritel diperkirakan kembali meningkat di Agustus 2017. Hal ini terindikasi dari IPR Agustus 2017 yang tumbuh 5,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan penjualan ritel diperkirakan terjadi pada kelompok makanan sebesar 10,4%, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh -0,3%. Pertumbuhan penjualan ritel untuk kelompok non makanan juga akan membaik dari -7,8% (yoy) menjadi -1,9% (yoy). Survei mengindikasikan tekanan kenaikan harga di tingkat pedagang eceran tiga bulan mendatang meningkat, dibandingkan bulan sebelumnya. Indikasi tersebut terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan yang akan datang sebesar 135,5, lebih tinggi dari 133,3 pada bulan sebelumnya.
    • Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2018 mendatang akan mencapai 5,26 persen, lebih rendah dibandingkan target pemerintah dalam RAPBN 2018 5,4 persen. "PDB (produk domestik bruto) pada 2018 kami perkirakan 5,2 persen," kata Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara saat rapat kerja pemerintah, BI, dan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin. Hal tersebut disampaikan Mirza setelah sejumlah anggota Komisi XI DPR RI meminta BI untuk mengkerucutkan proyeksinya dari sebelumnya yang hanya dalam bentuk kisaran yaitu 5,1-5,5 persen. Sementara itu, untuk laju inflasi pada 2018 mendatang, bank sentral juga mengerucutkan proyeksinya dari sebelumnya 2,5-4,5 persen, menjadi 3,3 persen. Angka tersebut juga lebih rendah dari asumsi inflasi pemerintah dalam RAPBN 2018 yaitu 3,5 persen. "Inflasi kami proyeksikan 3,3 persen," ujar Mirza. Terkait inflasi sendiri, Mirza menambahkan, laju inflasi yang semakin rendah memang semakin baik untuk meningkatkan daya saing. Namun, laju inflasi yang terlalu rendah juga dinilai tidak baik bagi perekonomian. "Tahun ini inflasi 4 plus minus 1 persen, tahun depan inflasi 3,5 plus minus 1 persen atau 2,5-4,5 persen. Di bawah 2,5 kurang baik, di atas 4,5 tentu kurang baik juga," katanya. Sementara itu, terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Mirza menolak untuk memberikan rata-rata kurs sepanjang 2018 mendatang. Ia hanya menyebutkan pada akhir 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan mencapai Rp13.550 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah bukan merupakan target Bank Indonesia, target Bank Indonesia adalah inflasi," ujar Mirza.
    • Bank Indonesia (BI) mengatakan terdapat tiga ketentuan krusial dalam peraturan baru penerbitan dan transaksi Surat Berharga Komersial (Commercial Paper/CP) yang dibuat untuk mencegah kembali terjadinya krisis di pasar keuangan seperti pada 1998. Kepala Departemen Pengembangan Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah di Jakarta, Senin, mengatakan tiga syarat baru ini hanya segelintir dari beberapa ketentuan baru dalam Peraturan BI (PBI) Nomor 19/9/PBI/2017 tersebut, namun cukup krusial. Pertama, seluruh perdagangan dan transaksi SBK akan dicatat tanpa warkat atau "scriptless trading", melainkan secara elektronik dan diselesaikan dengan pemindahbukuan. "Tahun 1998 banyak SBK yang fiktif, makanya sekarang kami atur scriptless," ujar dia. Nanang mengatakan salah satu krisis keuangan pada 1998 disebabkan SBK fiktif dan gagal bayar seperti pada SBK yang diterbitkan Garuda Indonesia, Hutama Karya, Kertas Leces, Istana Karya. Kedua, Nanang mengatakan BI mewajibkan penerbit SBK yakni korporasi non-bank harus memiliki peringkat yang ekuivalen layak investasi (investment grade). Peringkat (rating) ini untuk menjaga kepercayaan investor dengan menjamin tata kelola penerbitan serta transaksi SBK yang baik. "Pada 1998, belum ada ketentuan mengenai syarat peringkat ini," ujar dia. Kepastian peringkat tersebut, ujar Nanang, diharapkan dapat meningkatkan aliran investasi untuk pasar SBK domestik. Sebelum 1998, peran lembaga pemeringkat dalam tata kelola instrumen pasar uang tidak optimal. Hal itu juga yang mempengaruhi keputusan investasi dari penanam dana. Ketiga, kata Nanang, dalam tata kelola transaksi, BI juga mewajibkan minimal pembelian SBK oleh investor sebesar Rp500 juta atau satu juta dolar AS, atau ekuivalen dalam nominal valuta asing yang lainnya. Hal ini untuk menjaga agar transaksi SBK dilakukan oleh investor menengah ke atas, karena memang karakteristik instrumen ini idak ditujukan untuk investor ritel. Sedangkan penerbitan minimal nilai SBK-nya oleh korporasi sebesar Rp10 miliar atau satu juta dolar AS atau ekuivalen dalam valuta asing lainnya. "Karena ini memang lebih untuk pendanaan wholesale funding, bukan ritel," ucapnya. BI baru saja menerbitkan Peraturan BI (PBI) Nomor 19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi SBK Komersial di Pasar Uang. Dengan terbitnya peraturan transaksi SBK, maka Surat Keputusan Direksi BI Nomor 28/52/KEP/DIR tentang Persyaratan Penerbitan dan Perdagangan SBK dicabut. Nanang menjelaskan dalam PBI tersebut, BI juga mencatumkan banyak peraturan dari sisi penerbit, untuk menjaga kepercayaan investor. Misalnya, syarat untuk penerbit harus korporasi emiten saham pada Bursa Efek Indonesia, atau pernah menerbitkan obligasi atau sukuk yang dicatat di BEI dalam lima tahun terakhir. Jika tidak tercatat sebagai emiten atau perusahaan publik, korporasi penerbit harus beroperasi paling singkat tiga tahun atau kurang dari tiga tahun sepanjang memiliki penjaminan atau penanggungan. Kemudian, memiliki ekuitas paling sedikit Rp50 miliar dan menghasilkan laba bersih untuk satu tahun terakhir. BI juga mengatur kriteria SBK yang dapat diterbitkan, kewajiban penerbit SBK untuk mendaftarkan rencana penerbitan SBK ke BI, prinsip-prinsip keterbukaan informasi mengenai korporasi penerbit, prinsip-prinsip dalam penawaran SBK dan prinsip-prinsip dalam penerbitan dan penatausahaan SBK.
    • Penerbitan peraturan untuk pengeluaran dan transaksi Surat Berharga Komersial (Commercial Paper/CP) sebagai instrumen utang jangka pendek bagi korporasi, diperkirakan mampu mendorong perbankan untuk menurunkan bunga kreditnya, khususnya kredit modal kerja. Kepala Departemen Pengembangan Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendrasah di Jakarta, Senin, mengatakan semakin banyaknya instrumen utang di pasar keuangan, akan membuat persaingan penyaluran pembiayaan, seperti kredit bank akan menjadi lebih kompetitif. "Secara bertahap, kita lihat, bunga kredit modal kerja juga bisa turun karena banyaknya sumber pembiayaan," ujar dia. Hingga Juni 2017, menurut Analisa Uang Beredar dalam Arti Luas oleh Bank Sentral, suku bunga kredit bank rata-rata masih 11,83 persen atau masih jauh dari ekspetasi suku bunga kredit satu digit. Menyinggung biaya pendanaan yang lebih murah, Nanang mengatakan "Commercial Paper" sebagai salah satu instrumen utang oleh korporasi, memang memiliki tingkat biaya yang lebih murah, ketimbang bunga kredit dari bank. Misalnya, jika sebuah korporasi mengajukan kredit kepada bank, korporasi itu juga harus membayar biaya bunga yang dihitung dari komponen suku bunga dasar kredit, kolateral, dan biaya provisi. Sementara dengan menerbitkan instrumen "Commercial Paper", korporasi memang masih harus mengeluarkan biaya seperti biaya pemeringkatan dan penatausahaan. Namun, biayanya lebih murah dibanding biaya bunga bank. Bahkan, kata Nanang, selisihnya bisa mencapai 100 basis poin atau satu persen lebih rendah dibanding biaya bunga bank. Korporasi bisa menerbitkan instrumen "Commercial Paper" jika membutuhkan pendanaan dengan tenor hingga 12 bulan. Selain itu, lanjut Nanang, dengan penerbitan SBK, korporasi akan mendapatkan pendanaan langsung dari pasar, bukan melalui perantara dari perbankan. Seperti diketahui, BI baru saja menerbitkan Peraturan BI (PBI) Nomor 19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi SBK Komersial di Pasar Uang. Dengan terbitnya peraturan transaksi SBK, maka Surat Keputusan Direksi BI Nomor 28/52/KEP/DIR tentang Persyaratan Penerbitan dan Perdagangan SBK dicabut. Nanang mengatakan sudah banyak korporasi yang menunjukkan minat untuk menerbitkan "Commercial Paper". Mayoritas adalah perusahaan "leasing" atau perusahaan pembiayaan.

     

    EKONOMI GLOBAL

     

    • Pasar saham Australia dibuka menguat pada Selasa, dengan saham-saham material mengembalikan beberapa dari kerugian mereka yang terjadi sehari sebelumnya. Pada pukul 11.15 waktu setempat, indeks acuan S&P/ASX 200 naik 30,20 poin atau 0,53 persen menjadi 5.743,30 poin, sementara indeks All Ordinaries yang lebih luas menguat 27,60 poin atau 0,48 persen menjadi 5.802,70 poin. "Penggerak utamanya ada banyak dukungan pada banyak sektor," kata kepala analis pasar CMC, Ric Spooner. "Badai Irma tidak seburuk yang pasar pertama kali takutkan dan akibatnya kami melihat rebound di pasar AS dan telah mengalir ke Australia." Untuk hari kedua, bank-bank masuk di antaranya pemain terkuat dalam indeks, dan pada Selasa sektor pertambangan juga reli setelah mencatat kerugian besar pada Senin (11/9). Namun demikian, saham-saham energi lebih rendah pada perdagangan pagi. Commonwealth Bank naik 1,12 persen, Westpac Bank menguat 1,17 persen, ANZ meningkat 1,09 persen dan National Australia Bank menambahkan 1,05 persen. BHP menguat 1,31 persen, Rio Tinto meningkat 1,64 persen, Fortescue Metals juga melonjak 1,64 persen dan Newcrest Mining melambung 1,77 persen. Woodside Petroleum merosot 1,01 persen, Santos turun 1,77 persen dan Oil Search berkuramh 1,39 persen. Wesfarmers beringsut lebih rendah pada 0,14 persen dan Woolworths turun 0,60 persen. Telstra merosot 0,13 persen, Qantas turun 0,18 persen dan CSL kehilangan 0,60 persen.
    • China akan melarang penjualan kendaraan bertenaga minyak fosil sekaligus membuka ruang bagi penjualan mobil bertenaga listrik. Namun demikian, batas waktu belum ditetapkan pemerintah China. Jika terealisasi maka China merupakan negara pasar terbesar mobil yang melakukan pelarangan mobil bertenaga bensin dan solar. Pelarangan ini juga diduga sebagai sebuah langkah yang akan mempercepat pasar mobil listrik yang saat ini dikuasai oleh perusahaan domestik China, BYD Co. dan BAIC Motor Corp. Xin Guobin, wakil menteri industri dan teknologi informasi, mengatakan bahwa pemerintah bekerja sama dengan regulator lain untuk menetapkan jadwal mengakhiri produksi dan penjualan mobil berbahan bakar minyak. Langkah ini akan berdampak besar terhadap lingkungan dan pertumbuhan industri otomotif China, Xin mengatakan pada sebuah forum otomotif di Tianjin pada hari Sabtu. Perekonomian terbesar kedua di dunia ini telah berjanji untuk membatasi emisi karbonnya pada tahun 2030 dan mengontrol polusi udara yang memburuk. China bergabung dengan negara-negara industri lainnya seperti Inggris dan Prancis yang telah lebih dahulu mencanangkan penghapusan kendaraan yang menggunakan bensin dan solar. Larangan  ini akan mendorong produsen mobil lokal dan global untuk fokus mengenalkan lebih banyak mobil listrik dengan emisi nol untuk membantu membersihkan kota-kota besar yang tercemar asap polusi.
    • Dolar AS mendapat momentum penguatan pada awal pekan kemarin pasca meredanya ketegangan geopolitik baik dengan Korea Utara maupun dari potensi shut down pemerintahan AS. Dolar terpantau menguat hampir terhadap semua mata utama, emas juga tertekan akibat pengautan tersebut. Masih belum banyak data ekonomi penting yang dirilis hari ini, hanya data inflasi (CPI) Inggris pukul 15:30 WIB yang berpeluang meningkatkan volatilitas pasar.

     

    Potensi Pergerakan:

     

    Emas

     

    Penurunan harga emas kemungkinan berlanjut pada hari ini jika tidak terjadi peningkatan ketegangan geopolitik. Selama tidak menembus ke atas resisten 1330, emas berpeluang turun ke area 1313.

     

    Minyak Mentah

     

    Harga minyak mentah menguat pada hari Senin dan kemungkinan berlanjut pada hari ini setelah kilang minyak di AS yang mulai beroperasi kembali, serta Arab Saudi yang membahas kemungkinan perpanjangan program pemangkasan produksi. Jika mampu melewati resisten 48.40 minyak berpeluang naik ke area 49.20.

     

    EURUSD

     

    Belum adanya rilis data ekonomi dari zona euro hari ini kemungkinan membuat aksi profit taking EURUSD berlanjut dan membuka peluang penurunan ke area 1.1870.

     

    GBPUSD

     

    GBPUSD memiliki peluang kembali menguat mendekati level tertinggi satu tahun 1.2970 jika inflasi Inggris dirilis lebih tinggi dari 2,8%. Sebaliknya jika dirilis lebih rendah dari 2,8% GBPUSD kemungkinan turun ke area 1.3090.

     

    AUDUSD

     

    Data tingkat keyakinan bisnis Australia yang turun menjadi 5 di bulan Agustus dari bulan sebelumnya 12 memberikan tekanan bagi AUDUSD, dan berpotensi melanjutkan penurunan ke support 0.7960

     

    USDJPY

     

    Berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven membuat USDJPY naik tajam pada hari Senin, dan kemungkinan melanjutkan kenaikan ke area 110.10 selama bertahan di atas 109.00.

     

    • Pemerintah China berencana melarang perdagangan criptocurrency (mata uang digital), termasuk bitcoin, di bursa China. Rencana tersebut langsung menggunting pergerakan harga mata uang digital ini. Kabar bermula dari laporan majalah Caixin pada pekan lalu. Alasan larangan itu sendiri tidak jelas. Hanya saja memang, rencana larangan tersebut muncul ditengah pengetatan risiko finansial jelang perombakan kepemimpinan Partai Komunis China pada bulan Oktober mendatang. Yang menarik, Bank Sentral China, People's Bank of China (PBOC) juga baru saja menyelesaikan uji coba criptocurrency yang coba dikembangkannya sendiri. Jika jadi dilaksanakan, PBOC justru bakal menjadi bank sentral pertama yang mengeluarkan mata uang digital. Entah apakah ini aksi sepihak China agar uang digital yang dikembangkan PBOC bisa lebih maju ketimbang bitcoin beserta mata uang digital lainnya yang lebih dahulu ada. Senin (11/9), rencana larangan perdagangan uang digital hanya terbatas di bursa saja. Namun untuk transaksi over the counter (OTC) atas mata uang digital, bakal tetap diperkenankan. Sejak berita itu dirilis Caixin pekan lalu, harga bitcoin terus terkoreksi. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 16.30 WIB, harga bitcoin tersungkur di level US$ 4.208,36 per unit, turun 13,78% dari harga per 1 September 2017 yang saat itu bitocin menggapai rekor harga tertinggi di posisi US$ 4.880,84 per unit. OKCoin, BTC China dan Huobi, tiga bursa bitcoin terbesar di China menyatakan belum menerima pemberitahuan mengenai rencana larangan perdagangan uang digital. Ketiga bursa itu justru melaporkan kenaikan transaksi bitcoin sebanyak 6,3% pada perdagangan awal pekan ini. Hingga kini, China memang menjadi negara penyumbang transaksi bitcoin terbesar. Sebanyak 23% perdagangan bitcoin di seluruh dunia, berasal dari investor China. Zhou Shuoji, pendiri FBG Capital yang merupakan perusahaan pengelola aset digital blockchain di pasar modal menyatakan, rencana tersebut bakal menghambat perkembangan mata uang digital di China. "Volume perdagangan pasti akan menurun," tutur Zhou Shuoji. Lonjakan harga bitcoin yang mencapai 300% sepanjang tahun 2016 memang menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Robert Shiller pemenang hadiah Nobel dalam bidang ekonomi untuk karyanya bertajuk "bubbles" menyatakan, lonjakan harga yang terjadi pada bitcoin, serupa dengan gejala bubbles (gelembung) yang terjadi pada produk lainnya. Shiller menyatakan tidak merendahkan inovasi dan teknologi dibalik penciptaan bitcoin. Namun, dia menegaskan agak ragu untuk ikut menggunakan mata uang digital tersebut.
    • Bursa Asia melanjutkan reli, Selasa (12/9). Pasar saham di kawasan Asia merespons kenaikan tajam bursa Wall Street pada Senin malam. Indeks Nikkei 225 naik 1,08% pada awal perdagangan. Bursa Jepang didukung pelemahan yen terhadap dollar AS. Indeks masih bertahan naik 0,99% pukul 08.07 WIB. Di Korea Selatan, indeks Kospi juga menguat 0,34%. Sementara, indeks Australia S&P/ASX 200 melaju 0,44%, terutama didukung saham perbankan yang melompat 1,17%. Pada Senin, pasar saham AS ditutup naik tajam, karena kekhawatiran terhadap dampak Badai Irma mereda. Pasar optimistis kerusakan yang ditimbulkan Badai Irma tidak separah perkiraan awal. Di sisi lain, kecemasan terhadap konflik di Semenanjung Korea memudar. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memilih untuk meningkatkan sanksi terhadap Korea Utara. Meningkatnya kepercayaan global menyebabkan dollar pulih. Indeks dolar bertahan menguat di level 91,92. Dollar sempat jatuh ke level terendah 2,5 tahun di 91,01 pada Jumat lalu. Dari pasar komoditas, harga minyak di AS ditutup naik signifikan, Senin malam. Namun, di pasar Asia harga minyak WTI melemah tipis. Hari ini, pasar Asia akan mencermati sejumlah data ekonomi yang bakal dirilis. Diantaranya, indeks kepercayaan bisnis NAB Australia, penjualan ritel Singapura bulan Juli, dan CPI India bulan Agustus.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.